kalibuik

Just another WordPress.com weblog

cerita

Seks Itu, Nak….

Kamis, 27 November 2008

(Surat Seorang Bapak untuk Anaknya yang Baru Saja dapat Menstruasi Pertama)

Oleh: Hasan Aspahani
Pemimpin Redaksi Batam Pos
ANAKKU, ibumu tadi pagi mengabarkan bahwa kamu baru saja dapat menstruasi pertama. Aku dan ibumu, Nak, selalu berbagi  tentang perkembanganmu.  Aku bisa saja menganggap ini sebagai sebuah peristiwa biasa. Sama seperti ketika gigimu tumbuh pertama kali, atau seperti ketika kamu pertama kali bisa berjalan, atau ketika kamu pertama kali dengan sempurna memanggil ‘Mama’ pada mamamu.  Tapi, kali ini tidak bisa, Nak. Aku harus cemas. Untuk itulah aku menulis surat, yaitu agar kamu mengerti kecemasanku.
Menstruasi bagi seorang perempuan seperti yang kamu dapatkan, Nak, adalah sebuah peristiwa penting. Nanti setelah kamu mandi bersuci dari hadas besarmu yang pertama, kamu sudah aqil balig. Malaikat sudah mulai mencatat sendiri amal baik dan amal burukmu. Kamu sudah kena konsekuensi dosa dan pahala atas setiap apa saja yang kamu perbuat.
Kami cemas bila selama ini kami kurang mempersiapkan dirimu menghadapi situasi ini. Kamu sudah wajib sembahyang, dan ibadah fardu ain lainnya. Itu artinya, Nak, kamu sudah langsung bertanggung jawab kepada Tuhan. Mudah-mudahan, kami sudah cukup mempersiapkan kamu, dan nanti Tuhan tidak menyalahkan kami sebagai orangtua.
Menstruasi juga menandakan bahwa kamu adalah manusia yang sempurna, Nak. Kami adalah perempuan yang lengkap. Kamu tidak perlu mencemaskan itu, Nak. Kamu tidak perlu jijik dengan kotoran yang memang harus dibuang dari tubuhmu. Itu menandakan bahwa  proses pertumbuhan dan perkembangan fungsi organ-organ reproduksi dalam tubuhmu telah mencapai kematangan. Kodratmu sebagai manusia dan sebagai perempuan memang harus mengalami itu. Alih-alih cemas, berbanggalah, Nak. Tuhan mengirimkan isyarat cintanya kepadamu lewat tahapan-tahapan kedewasaan itu.
Dengan demikian, Anakku, fungsi dan tanda seksualitas dalam tubuhmu berjalan normal, dan itu harus kamu syukuri. Kamu akan tumbuh menjadi perempuan yang pasti punya sesuatu yang membuat teman-teman lelakimu tertarik padamu. Bahasa kita punya satu kata yang sangat indah untuk menggambarkan ketertarikan itu, yaitu Cinta. Kamu pun nanti akan merasakan cinta pada seseorang dan tidak pada seorang yang lain. Ini juga sebuah perkembangan yang normal, Nak. Amat manusiawi. Kami justru akan lebih cemas, bila kamu tidak pernah merasakan itu. Maka, Anakku, seperti selama ini, tetaplah terbuka padaku, dan pada ibumu. Ceritakanlah tanpa menyembunyikan apapun, karena itu memang tak perlu kamu sembunyikan.
Pada saatnya nanti, kamu akan menemukan lelaki yang kamu percaya dan seluruh sisa hidupmu akan kamu percayakan padanya. Begitupun lelaki itu padamu. Kami – aku dan ibumu – mungkin bukan pasangan yang sempurna, tapi, Anakku, kami bisa berbagi banyak pengalaman bagaimana kami menanam benih cinta kami, menjaga kesuciannya, merawat tumbuhnya, dan menjaganya dari hama dan gulma. Kamu, anakku, adalah buah yang kami petik dari tanaman cinta kami itu.
Kamu telah memasuki fase dewasa dalam kehidupanmu. Itu artinya, Anakku, kamu juga memasuki ruang dalam masyarakat yang harus kita syukuri sekarang sudah memiliki tata peradaban yang sangat nyaman. Kita tidak berada di zaman batu, atau zaman jurasik.
Manusia di zaman kita ini, Nak, ditata oleh seperangkat nilai-nilai moral dan dalam perangkat itu nilai-nilai agama menyetor poin yang cukup banyak. Kamu, perlahan akan tumbuh menjadi manusia yang bisa membuat nilai-nilai itu menjadi semakin baik. Ada memang orang-orang yang tak peduli pada semua itu, atau tidak tahu dan karena itu tidak sadar  mereka mengacaukannya. Itu sebabnya ada perangkat-perangkat hukum yang mengingatkan orang-orang semacam itu, yang menata kembali kekacauan yang diakibatkannya. Kami percaya orang itu bukan kamu, Nak.
Kamu bacakah berita-berita itu, Nak? Ada sekelompok pelajar di kota ini yang mungkin seperti kamu, baru saja dapat menstruasi pertama, yang – Ya, Tuhan, betapa ngeri saya membayangkan – bersama teman-teman perempuan dan teman lelakinya tanpa setahu orangtuanya menginap di kamar hotel dan mereka mengikuti dorongan naluri seksualitasnya.

Di kota lain ada pelajar yang – Ya, Ampun, kemana guru-gurunya saat itu? – melakukan hubungan seksual di WC kamar mandi sekolah di saat jam istirahat. Tak ada yang membenarkan perbuatan itu, Nak. Tak ada sama sekali. Itu zina, dalam agama kita itu salah satu perbuatan yang amat besar dosanya. Aku tak bisa membayangkan betapa berat siksa bagi manusia penzina kelak di hari Tuhan mengadili segalanya.
Mereka para penzina itu bisa membuat alasan apa saja tapi kalau alasan mereka itu dibenarkan maka buat saya, Nak, peradaban yang aku hayati dan percaya telah sempurna berkembang ini seakan kembali ke titik nol. Jangan, Nak. Jangan lakukan itu. Kita harus menjadi manusia yang ikut terus mengangkat peradaban kita ke harkat yang lebih tinggi, Nak. Banyak yang bisa kita lakukan untuk itu.
Seksualitas itu, Nak, hanyalah pelengkap. Manusia dan kemanusiaan tidak dibangun atas itu saja. Menjadi manusia tidak berarti hanya mengejar atau melengkapi itu saja. Banyak dimensi lain yang harus kita lengkapi dan itu semua bersama-sama membuat hidup kita sempurna sebagai manusia.
Sebagai sesuatu yang baru bagimu mungkin seksualitas itu – hasrat, impian, naluri, nafsu – sesekali akan menyita perhatianmu. Semua ada masanya, Nak. Semua ada waktunya. Kamu toh tidak dapat menstruasi sejak bayi, bukan? Ya, seperti petuah pamannya Peter Parker, Sang Spiderman, kekuatan yang besar datang bersama tanggung jawab yang besar. Itulah skenario Tuhan bagi manusia: bagiku, bagi ibumu, dan bagimu sekarang.
Kami sudah melewati masa-masa itu, Nak. Dan sejauh ini kamu bangga, karena kami bisa melewatinya dengan selamat. Kami percaya padamu, bahwa kamu juga sekuat kami dulu. Naluri apapun tak harus sepenuhnya diikuti dan dipuaskan, apalagi bila memang bukan saatnya. Kami sudah menyiapkan namamu  sembilan tahun sebelum kamu lahir, Nak. Betapa inginnya kami menimang kamu. Selam sembilan tahun itu kami menahan diri, bersabar dan menyadari bahwa memang bukan saatnya kami menerima tanggung jawab besar membesarkan kamu. Kami tahu, bahwa kamu akan sekuat kami.
Di masa akil baligku, Nak, belum ada internet. Aku pernah ceritakan padamu dulu bagaimana aku diam-diam mencuri kalender bergambar perempuan berpakaian minim. Nah, hasrat seksualitas itulah yang mendorongnya, Nak. Kalender itu adalah godaan besar buatku ketika itu.

Tapi, hanya sebatas itulah. Godaan itu kalah dengan banyak hal lain yang aku lakukan dan itu menyita banyak waktu, energi dan perhatianku: aku main bola, berenang di laut, membuat topeng-topengan, menempa tanah liat, membaca Tom Sawyer-nya Mark Twain, membayangkan jadi anggota keenam kelompok Lima Sekawan-nya Enyd Blyton, dan bermimpi jadi wartawan setelah membaca Tintin. Oh ya, aku juga suka menunggu siaran TVRI sore untuk menunggu apakah gambar yang kukirim ditayangkan oleh Pak Tino Sidin. Aku tumbuh tanpa kehilangan potensi seksualitas dalam tubuhku dan itu memang tidak harus dibunuh, Nak. Kini godaan itu bagimu akan datang dari banyak arah. Tapi aku percaya, Nak, kamu tahu bagaimana mengelakkannya.
Aku dan ibumu, kami, selalu ada ketika kamu membutuhkan.***


One response to “cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: