kalibuik

Just another WordPress.com weblog

Tambo

on March 23, 2011

Tambo merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Cara mengisahkannya disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Tambo bisa pula mengkisahkan sejarah bangsa lain. Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu : Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan , Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan.. Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini : Dimana mulanya terbit pelita Dibalik tanglun nan berapi Dimana mulanya ninik kita Ialah di puncak gunung Merapi Bagaimana caranya kita mencari pembenaran, bahwa ternyata kaba dan tambo itu merupakan realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya Minangkabau untuk masa sekarang ? Bukankah sesuatu yang diceritakan, oleh si tukang kaba dahulu (minangkabau kuno), merupakan informasi yang tidak seragam, yang menimbulkan keragu-raguan ?. Berpijak dari konsep antropologi, khususnya antroplogi sosial yang mempelajari prilaku dan hasil kerja manusia, seperti ; sistem politik dan ekonomi, struktur kekerabatan, tatacara perkawinan, kesenian dan kesusastraan, dll, maka kaba dan tambo dapat dijadikan referensi terhadap asal usul manusia, asal usul adat dan budaya minang kabau. ? Dengan demikian, maka benarlah tambo merupakan hasil kerja imajinasi spektakuler dari nenek moyang minang kabau, yang telah mengatur dan menetapkan falsafah hidupnya dengan berguru kepada alam, kemudian menetapkan pola kekuasaan (bukan pemerintahan, pen) yang demokratis, pemimpin nagari yang bersifat kolektif, system ekonomi, , undang-undang dan hukum, , lembaga perkawinan, harta dan pusaka, termasuk sastra dan permainan rakyat. Jika dikatakan minang kabau sebagai subyek kebudayaan, maka pertumbuhan adat yang tidak lekang oleh panas dan tidak basah karena hujan tadi, memperkuat kesadaran masyarakat bahwa dalam mempertahankan adat dan budaya, semestinya tidak sebagai pelengkap saja, dalam hubungan antar manusia di kewilayahan Sumatera yang dahulu disebut “ pulau perca atau Andalas “ pada umumnya, Sumatera Barat pada khususnya. namun tetap berpijak pada konsepsi adat bersendi syara, dan syara, bersendi kitabullah. Kembali pada uraian diatas, banyak mitologi dari kaba atau tambo yang mesti diuangkap sebagai fakta budaya. Terus terang penulis, mulai mempertanyakan nama “ suku bangsa kita – Minang kabau. Para ahli sejarah telah telah mengupas bahwa nama (suku bangsa) Minangkabau berasal dari “ Pinang Khabu “ sebagai country origin (tanah asal) – Ven der Tuuk. Demikian juga dalam menon khabu, yang artinya tanah mulia atau mau angka bahu, yang artinya yang memerintah, dalam kupasan para penulis sejarah, seperti DR. Hussein Nainar atau M. Rasyid Manggis bahkan buku Sumatera Tengah dari Jawatan Penerangan Sumatera Tengah sekalipun. Jika Tambo dianggap sebagai realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya, maka selayaknya para ahli adat dan budaya minang mengenyampingkan informasi yang imajinasi menjadi informasi yang factual, sebagaimana yang diharapkan masyarakat minang , terutama yang hidup diperantauan. Termasuk masyarakat minang yang telah berasimilasi dengan suku bangsa lain.


One response to “Tambo

  1. gggg says:

    dangan kecer urang saisuak tttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: