kalibuik

Just another WordPress.com weblog

Sebagai Bajingan Aku Telah Kauterima

on February 3, 2009

Sebuah Renungan untuk Hari Pahlawan yang telah berlalu tapi takan mati600px-flag_of_indonesia_borderedsvg1

TAK ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis, selain mengetahui bahwa tulisannya dibaca oleh orang lain. Diam-diam, beberapa orang membuat sebuah organisasi yang amat lentur bernama PKK alias Penggemar Kolom Kamisan. Ada yang suka mengusulkan tema itu ini, ada juga yang rajin berkomentar. Kepada merekalah kolom ini kali ini saya tulis.

***
Menjadi pahlawan itu ternyata mudah. Apalagi kalau kita tidak meniatkannya. Teman saya, misalnya, tiba-tiba bisa jadi ”pahlawan” ketika pada suatu hari dia mengembalikan kupon jatah bensin dari kantor, karena jatah itu amat berlebihan buatnya. Menjual kupon yang tidak bisa diuangkan itu buat dia adalah korupsi, jadi ya dia kembalikan saja. Apalagi dia tahu, manajemen kantornya sedang berhemat, dan dia tentu harus mendukung gerakan itu.
Kadar ”kepahlawanan” kawan saya itu bertambah ketika kemudian kantornya akhirnya meninjau kebijakan pembagian kupon bensin. Dan kelahiran seorang ”pahlawan” selalu makan ”korban”. Kolega kantor teman saya tadi yang telanjur mengeset gaya hidup tinggi – misalnya dengan memiliki dua atau tiga mobil di rumahnya – tentu saja menyumpahi dia.
”Kau itu memang seperti Robinhood,” kata saya.
Robinhood, di mata sahabat-sahabatnya para penjahat di hutan Sherwood, adalah pahlawan. Ia juga pahlawan bagi orang-orang miskin di Nothingham. Tapi, bagi para bangsawan dan hartawan di kota itu – yang hartanya kerap dirampok –  dia adalah bajingan.
Menjadi pahlawan itu ternyata memang mudah. Kita bisa jadi pahlawan dengan memakai sedikit keberanian untuk melawan sesuatu yang menyimpang ke arah yang salah. Kita bisa jadi pahlawan dengan sedikit saja menimbang – ketika menerima sesuatu – lantas bertanya adilkah ini buat saya dan buat orang lain yang terkait dengan saya?
Dua kali sudah saya sebutkan bahwa menjadi pahlawan itu mudah. Sebuah kelompok – sekecil apapun – selalu memerlukan seorang pahlawan. Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia, saya menemukan kata ”altruisme”. Kata ini dilawankan dengan kata ”egoisme”, dan diuraikan sebagai ”cinta yang tak terbatas terhadap sesama manusia, sifat yang tidak mementingkan diri sendiri”. Pahlawan saya kira adalah orang yang mampu mengalahkan egoisme dalam dirinya dengan altruisme.
Saya percaya bahwa sekelompok orang yang hendak lekas bergerak maju memerlukan seorang pahlawan. Bila kata pahlawan itu terasa amat kuno, maka para pemikir manajemen modern menerjemahkannya dengan amat baik dengan istilah leader atau pemimpin. Kita kini lebih nyaman menerima istilah ”leadership” daripada ”heroism”. Lihat istilah itu, hero ternyata lebih dekat pada ”ism” pada keyakinan atau kepercayaan. Lagi pula, kini terminologi ”pahlawan” itu sendiri sudah amat bias. Kawan saya mungkin sebenarnya tengah diolok-olok dengan kalimat, ”memang pahlawan betullah kau ini…” Lihat, rasakan, ada nada mengejek di kalimat itu, bukan?
Seperti kawan saya itu, saya teramat sering diselamatkan oleh tindakan-tindakan kecil orang-orang yang di mata saya adalah pahlawan saya. Mereka pasti tidak ingin saya pahlawankan. Tapi, buat saya tanpa bantuan mereka pada saya, maka saya tak akan pernah sampai ke mana-mana. Saya tahu mereka sekadar mengikuti altruisme dalam diri mereka. Karena saya tahu mereka tak menuntut balas dari saya, maka saya selalu terdorong untuk meniru mereka dengan menolong orang lain. Ah, betapa sok pahlawannya saya, bukan?
Belajar dari kisah teman saya dari, maka bila dihadapkan pada pilihan, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Robinhood adalah bajingan. Dia adalah seorang kriminal yang di mata sherif punya seribu alasan untuk dijebloskan ke tahanan atau bahkan ke tiang gantungan.
Baiklah, saya ingin menjadi bajingan yang seperti suka kutip dari bait sajak W.S. Rendra yang amat saya sukai, ”…Sebagai bajingan aku telah kauterima”. Rendra sebenarnya tidak bicara sepenuhnya tentang seorang bajingan, ada nada gagah seorang pahlawan dalam sajaknya yang berlatar Kota New York itu. Ia bercerita tentang percintaan yang membuat hidup bergairah tetapi tidak mengubah hidup itu sendiri.

Hidupku dan hidupmu
Tidak berubah karenanya.
Masing-masing punya cakrawala berbeda.
Masing-masing punya teka-teki sendiri
yang berulang kali menggayangnya.

Demikianlah, Rendra mengakhiri sajak bertajuk ”Kepada M G” dalam buku “Blues untuk Bonnie”. Tetapi, sebelum diakhiri dengan bait itu, telah ia sebutkan bahwa … Hidup telah hidup dan menggeliat. Waktu gemetar dalam ruang yang gemetar…  Rendra mungkin sangat sadar bahwa dalam lingkup kecil, hubungan antarpribadi misalnya, jarak antara seorang bajingan dan pahlawan teramat tipis. Seorang bajingan bisa saja dikenang abadi sebagai pahlawan, justru karena tindakannya yang amat jauh dari niatan untuk jadi pahlawan.
Kita mungkin lebih mudah menerima pahlawan yang seperti itu. Dan para pembuat karakter komik tampaknya amat tahu psikologi itu. Maka, Clark Kent pun tampil culun walkuper dengan kacamata dan rambut klimis agar orang tak serta merta tahu bahwa dialah Kar El si supermanusia itu. Peter Parker merancang cadar karet ketat dengan hanya bukaan sedikit pada dua mata, agar orang tak tahu bahwa dialah the human spider itu. Para superhero itu – serekaan apapun mereka – ketika beraksi di balik topeng, sesungguhnya juga tengah melupakan sisi manusianya. Dengan kata lain, saat itu mereka membuang jauh egoisme dan mengikuti setulus-tulusnya naluri altruisme.
Maka, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Ada semacam gairah dalam keinginan itu, seperti gairah bajingan dalam sajak Rendra. Hidup jadi lebih hidup, tidak seperti si Negro – dalam sajak “Blues untuk Bonnie – yang menegur sepi dengan mata terpejam.”… Dan sepi menjawab dengan sebuah tendangan jitu tepat di perutnya”. Betapa tidak bergairahnya.
Sebuah iklan politik kini dipersoalkan banyak orang. Jadi wacana yang hangat. Pangkal soalnya adalah sebuah nama, yakni Soeharto. Mantan penguasa kita itu  dijejerkan bersama nama lain dan diberi sebutan pahlawan dan guru bangsa. Rupanya bagi Soeharto sebutan pahlawan itu masih amat bermasalah.
Saya bukan Soeharto. Dia taktikus besar, tapi kemudian lupa bahwa kuasa punya batas. Saya hanya ingin jadi ”bajingan”, yang paling tidak membuat hidup saya sendiri menjadi bergairah. Dan untuk itu saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang mendorong-dorong saya untuk jadi ”bajingan”. Sebab, dengan gairah itu kemudian saya jadi tak gentar menghadapi apapun, menyerentaki hidup bergerak ke arah yang lebih baik.
Ada satu aturan main penting dalam kredo seorang bajingan. Bajingan tidak perlu merasa takut pada bajingan. Ia hanya malas berurusan dengan orang yang ”sok pahlawan” dan terlebih lagi amat muak pada orang yang ”sok bajingan”. Kalau kemudian ada yang mempahlawankan saya, ”si bajingan” ini, maka itu artinya saya harus lekas menelepon Rendra, sebab, ”sebagai bajingan aku telah kauterima!” ***

<batam pos>


2 responses to “Sebagai Bajingan Aku Telah Kauterima

  1. under says:

    san paten kato2
    mah!!!!!!

  2. under says:

    lah banyak barubah kini yo!!!!!
    ba nyo kuliah????
    lai aman kan??????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: